Pasutri Otaki Sindikat Penipuan CPNS sebanyak 1.003 orang di Jabar

Penipuan cpns. Sindikat pelaku penipuan seribuan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Jawa Barat (Jabar) diotaki pasangan suami istri (pasutri). Komplotan penipu berjumlah delapan orang ini memiliki peran masing-masing saat beraksi mengelabui korban.
Para pelaku terdiri tujuh pria yaitu Asep Saful Fasih (50), Aminudin Achmadi (48), Deddy Sugandi (43), Maman Suryaman (54), Dede Kurnia (38), Jamil Nurudin dan Dede Mulyana, serta satu wanita yakni Heti Hermawati (55). Ada tiga pelaku sebagai oknum PNS yaitu Asep, Aminudin dan Heti.

penipuan cpns sebanyak 1003
“MS dan HH itu pasutri,” ucap Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Sulistyo Pudjo Hartono saat rilis pengungkapan kasus penipuan CPNS yang berlangsung di Mapolda Jabar, Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung, Sabtu (15/8/2015).
Menurut Pudjo, sindikat ini sudah lima tahun atau 2010-2015 melakoni aksi penipuan modus perekrutan CPNS. Tercatat, kata dia, jumlah korban sebanyak 1.003 orang.
“Korban asal sejumlah daerah di Jabar,” ujar Pudjo.
Kasubdit II Ditreskrimum Polda Jabar AKBP Trunoyudho Wisnu Andhiko membeberkan peran masing-masing para pelaku. “Otak pelakunya MS. Dia mengaku sebagai staf PNS BKN Pusat dan mengeluarkan produk surat pengangkatan CPNS palsu. Kalau isttinya, HH, berperan menjadi koordinator perekrut calon korban,” ucap Trunoyudho.
Pasutri tersebut merupakan warga Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Jabar. Lebih lanjut Trunoyudho menuturkan, siasat tipu-tipu ala Maman dibantu oleh Dede Mulyana dan Jamil Nurudin.
“DM ini tugasnya membuat cetakan map dan SK serta dokumen palsu. Setiap order pekerjaan DM ini mendapat bayaran dari MH. Kalau JN itu sopirnya DM yang selalu mengantar majikannya tersebut dan mengetahui kegiatan MH. Nah, JM ini seminggu sekali mendapatkan upah uang dua juta rupiah dari MH selaku otak kejahatan,” tuturnya.
Sementara Asep Saful dan Dede Kurnia berperan sebagai koordinator perekrutan dan pendaftaran para korban peserta pendaftaran CPNS. Asep sukses merekrut 328 korban, lalu dia menyetorkan uang sekitar Rp 3 miliar kepada Maman. Dede merekrut 130 korban, dia menyerahkan uang milik para korbannya sebesar Rp 4,3 miliar kepada Maman.
“Para koordinator itu mendapatkan uang 20 juta rupiah per korban. Bahkan bisa lebih nilai uangnya,” ucap Trunoyudho.
Dua tersangka lainnya, Aminudin dan Deddy ikut serta memuluskan aksi Maman dan Asep. Aminudin dan Deddy mendapat imbalan uang Rp 4 juta.
Dalam kesempatan itu Trunoyudho mengungkapkan soal aset hasil kejahatan yang dimiliki Maman dan Heti. Pasutri tersebut membeli aset berupa lima unit rumah dan dua unit rumah indekos di Garut, sawah, satu hektare kebun labu, satu hektare kolam ikan dan delapan unit mobil.
“Aset itu diperoleh tersangka H setelah menerima uang dua miliar rupiah dari 300 korban,” ucap Trunoyudho.
Usai rilis, awak media tidak diizinkan mewawancarai para pelaku. Semua pelaku langsung digiring sejumlah polisi ke ruang tahanan Mapolda Jabar. (news.detik.com)

Leave a Reply